Waktu di London seolah bergerak dalam ritme yang lamban dan melelahkan, menyeret setiap detik menjadi jam-jam yang penuh dengan perjuangan fisik yang kian hari kian berat bagi Seraphina. Musim dingin yang ekstrem perlahan mulai meluruh, menyisakan sisa-sisa es yang mencair di pinggiran jalan Richmond, namun bagi Sera, pergantian cuaca itu tidak membawa kelegaan yang berarti. Ia kini telah memasuki trimester ketiga, fase di mana rahasia yang ia bawa bukan lagi sekadar tonjolan halus di balik mantel oversized, melainkan beban nyata yang menuntut seluruh energi dari tubuh mungilnya. Setiap pagi, ia terbangun dengan rasa berat yang luar biasa di bagian bawah perutnya, seolah-olah seluruh gravitasi bumi berpusat pada rahimnya yang kini menampung kehidupan yang semakin aktif dan kuat. Sera dudu

