Kegelapan di Richmond pada jam tiga pagi bukanlah kegelapan yang membawa ketenangan, melainkan semacam keheningan yang menekan, seolah-olah seluruh kota London sedang menahan napas di bawah selimut kabut yang lembap. Di dalam kamar flat yang hanya diterangi oleh pendar lampu jalanan yang menembus tirai tipis, Seraphina Dirgantara kembali terjaga. Ini adalah malam keberapa dalam minggu ini? Ia sudah berhenti menghitung. Baginya, waktu bukan lagi rangkaian angka di jam dinding, melainkan siklus rasa sakit di punggung bawah, sesak napas yang mencekik, dan pikiran-pikiran liar yang menolak untuk beristirahat. Ia mencoba mengubah posisi tidurnya, menyamping ke kiri dengan bantuan tumpukan bantal di bawah perutnya yang kini terasa seberat batu besar, namun setiap inci gerakan tubuhnya memicu ras

