Langit London pada dini hari itu tampak seperti genangan tinta yang tumpah di atas hamparan beludru kelabu, menyisakan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah ventilasi flat Richmond. Di dalam kamar yang selama berbulan-bulan menjadi saksi bisu pengasingannya, Seraphina terbangun bukan karena alarm atau suara burung pagi, melainkan karena sebuah sentakan tajam di dasar panggulnya yang terasa seperti kilat yang menyambar saraf. Ia terkesiap, tangannya mencengkeram pinggiran sprei kasmir hingga buku-buku jarinya memutih. Itu bukan lagi kontraksi palsu yang biasa datang dan pergi selama trimester ketiga. Ini adalah rasa sakit yang berbeda—sebuah gelombang yang dalam, panas, dan berirama yang seolah-olah sedang meremas seluruh organ dalamnya untuk membuka jalan bagi sebuah awal yang

