Keesokan paginya, Alaric yang bangun dari tidurnya bukan lagi Alaric sang "pria simpanan" yang penuh gairah. Ia berdiri di depan cermin besar di apartemennya, menatap bayangan pria dengan rahang tegas dan mata dingin yang seolah tak memiliki emosi. Ia mulai membangun sebuah tembok besar, sebuah barikade es yang tidak boleh ditembus oleh siapa pun, terutama oleh gadis yang baru saja ia rengkuh dengan liar beberapa jam yang lalu. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap, seolah-olah pakaian itu adalah baju zirah yang melindunginya dari godaan dunia luar. Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Sebuah pesan masuk dari Sera. “Ric, aku merindukanmu. Semalam sangat gila. Aku masih bisa merasakan sentuhanmu. Kapan kita bertemu di apartemen rahasia? Aku ingin kamu menciumk

