Sinar matahari pagi yang menerobos jendela kamar Seraphina Dirgantara terasa tidak sehangat biasanya. Gadis itu terbangun dengan sisa-sisa aroma tubuh Alaric yang seolah masih tertinggal di bantalnya, namun di dalam dadanya, ada kekosongan yang menyesakkan. Pesan singkat yang dikirimkan Alaric semalam—pesan yang begitu dingin, kaku, dan penuh jarak—terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. “Jangan pernah pergi ke tempat itu lagi tanpa izin dariku ... urusan sepele ... protokol formal.” Kata-kata itu terasa seperti tamparan fisik yang membekas di pipinya. Sera mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alaric hanya sedang kelelahan, atau mungkin pria itu sedang berada di bawah tekanan audit tahunan yang luar biasa berat. Ia tahu Alaric adalah pria yang sangat berdedikasi pad

