Labirin Air dan Amarah.

1108 Kata
​"Jangan mati di sana, Sera," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan suara lift yang bergerak turun. ​Pintu lift terbuka di area parkir VVIP. Alaric melangkah keluar dengan langkah lebar yang bertenaga. Hawa lembap dan aroma air hujan yang menusuk segera menyambutnya. Ia melihat beberapa mobil operasional kantor mulai dievakuasi ke lantai yang lebih tinggi karena air mulai menggenang di lantai terbawah basemen. Alaric tidak memedulikan itu. Ia menuju mobil SUV hitamnya—sebuah kendaraan yang dirancang untuk menembus segala medan, namun ia meragukan apakah mesin secanggih apa pun bisa menembus kekhawatiran yang kini mengunci dadanya. ​Ia masuk ke dalam kabin mobil, menghidupkan mesin yang menderu rendah. Di dalam keheningan mobil yang kedap suara itu, kegelisahan Alaric mencapai puncaknya. Ia memutar kemudi, mengarahkan mobilnya keluar dari gedung Valerius Group. Begitu ia keluar dari area parkir, ia disambut oleh dinding air yang masif. Jarak pandang tidak lebih dari lima meter. Wiper mobilnya bekerja dengan kecepatan maksimal, namun air hujan jatuh lebih cepat daripada kemampuan bilah karet itu untuk menyapunya. ​Alaric mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana jalanan protokol yang biasanya gemerlap kini berubah menjadi gelap dan penuh dengan kendaraan yang terjebak. Lampu-lampu darurat mobil di sekitarnya berkelap-kelip seperti peringatan akan adanya malapetaka. ​Sambil menyetir menembus badai, Alaric tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Bramantyo. Sera menolak membukakan pintu. Kenapa gadis itu begitu keras kepala? Apakah itu benar-benar karena sakit, ataukah Sera sedang memainkan permainan emosional untuk menarik perhatiannya? Alaric tahu Sera memiliki kecenderungan untuk bersikap provokatif padanya akhir-akhir ini, namun ia tidak ingin percaya bahwa Sera akan menggunakan kesehatannya sendiri sebagai umpan. ​Namun, di sisi lain, Alaric merasakan sebuah dorongan gelap di dalam dirinya. Sebuah keinginan untuk melihat Sera, memastikan gadis itu berada di bawah kendalinya. Ada rasa puas yang aneh saat menyadari bahwa malam ini, hanya dialah satu-satunya pria yang bisa menyelamatkan Sera. Hanya dialah yang memegang kunci untuk masuk ke dalam dunianya yang tertutup. ​Kegelisahan itu kini bercampur dengan gairah yang ia tekan jauh di dalam bawah sadarnya. Alaric mengumpat pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti pengkhianat karena memiliki pikiran seperti itu di tengah situasi darurat ini. Ia harus fokus. Ia harus sampai di sana. Ia harus menjadi "paman" yang baik, penjaga yang setia, dan sahabat yang bisa diandalkan. ​Namun, saat petir menyambar di langit Jakarta, menerangi wajah Alaric yang tampak seperti predator yang sedang berburu, ia tahu bahwa malam ini, peran-peran suci itu akan mulai luntur. Kegelisahan yang ia rasakan bukan hanya karena ia takut Sera terluka, tapi karena ia takut akan apa yang mungkin ia lakukan saat ia menemukan Sera dalam kondisi tak berdaya nanti. ​Alaric terus membelah badai, mengabaikan genangan air yang semakin tinggi. Pikirannya terus tertuju pada apartemen di lantai dua puluh dua, tempat seorang gadis sedang menunggu takdir yang baru saja ia buat. Dan Alaric Valerius, sang penguasa bisnis yang tak pernah terkalahkan, sedang melaju lurus menuju satu-satunya kekalahan yang akan ia nikmati seumur hidupnya. ​Kesunyian di dalam mobil itu kini hanya diisi oleh suara detak jantungnya sendiri, yang entah mengapa, terasa lebih kencang daripada suara guntur di luar sana. Alaric menyadari, kegelisahannya bukan berasal dari luar, melainkan dari sebuah obsesi terlarang yang selama ini ia kunci rapat di dalam hatinya yang paling dingin. ​Alaric mencoba menghidupkan radio untuk mendapatkan laporan lalu lintas, namun hanya ada suara statis yang berisik—sinyal benar-benar terganggu oleh cuaca ekstrem. Ia melemparkan pandangannya ke arah dasbor, melihat jam digital yang terus berdetak. Ia sudah terjebak di area Kuningan selama dua puluh menit tanpa pergerakan berarti. Kemarahan mulai muncul di matanya yang gelap. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. ​"Sialan!" umpatnya, memukul kemudi. ​Ia memikirkan Sera yang mungkin sedang menggigil kedinginan atau mungkin sedang merintih kesakitan. Rasa tidak berdaya ini adalah sesuatu yang Alaric benci lebih dari apa pun di dunia ini. Ia terbiasa mengendalikan pasar saham, mengendalikan ribuan nyawa karyawan, namun ia tidak bisa mengendalikan macetnya jalanan Jakarta atau kesehatan seorang gadis yang kini memenuhi seluruh ruang di kepalanya. ​Setiap kali ia memejamkan mata sejenak di tengah kemacetan, ia melihat wajah Sera. Wajah yang mulai berubah dari seorang anak kecil yang manis menjadi wanita muda dengan bibir yang menggoda. Alaric merasa dadanya sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menjernihkan pikirannya dari fantasi-fantasi yang tidak pada tempatnya. ​"Fokus, Alaric. Dia hanya butuh pertolongan medis," perintahnya pada diri sendiri dengan suara yang serak. ​Namun, semakin ia mencoba bersikap logis, semakin besar pula kegelisahan yang ia rasakan. Alaric tahu, malam ini ia tidak akan bisa pulang ke rumahnya yang sepi dengan tenang. Malam ini, ia telah terseret masuk ke dalam pusaran hidup Seraphina, dan ia tidak yakin apakah ia ingin keluar dari sana atau justru tenggelam bersamanya. ​Badai terus menderu, seolah-olah alam sedang menertawakan usaha Alaric untuk tetap bersikap benar. Jakarta malam itu benar-benar menjadi saksi bisu atas runtuhnya pertahanan mental seorang pria yang paling disegani, saat ia melaju demi seorang gadis yang secara sadar telah menjebaknya dalam sebuah permainan nyawa dan dosa. *** ​Dunia di luar kaca depan mobil SUV hitam itu telah hilang, digantikan oleh dinding air yang masif dan kelabu. Wiper mobil Alaric bekerja dengan kecepatan maksimal, menciptakan suara ritmis swish-swish yang tajam, namun setiap sapuannya hanya mampu memberikan pandangan jernih selama sepersekian detik sebelum air hujan kembali menutupinya. Alaric Valerius mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sanggup mematahkan plastik keras. Otot-otot lengannya menegang di balik kemeja putih mahal yang kini terasa sedikit menyesakkan. Ia bukan lagi seorang CEO yang sedang duduk di kursi empuk kekuasaannya; ia adalah seorang pria yang sedang bertarung melawan alam demi sebuah kepastian yang belum ia miliki. ​Jakarta malam itu telah berubah menjadi pemakaman mesin. Di sepanjang jalan protokol yang biasanya menjadi simbol kemewahan, deretan mobil mewah kini teronggok tak berdaya, lampu darurat mereka berkelap-kelip pucat seperti mata ikan yang sedang sekarat. Genangan air telah mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan di beberapa titik, memaksa pengemudi yang lebih rendah untuk menyerah dan membiarkan kendaraan mereka terendam. Namun Alaric tidak punya pilihan untuk menyerah. Setiap detik yang ia habiskan untuk menunggu di tengah kemacetan yang lumpuh ini terasa seperti sebuah penghinaan terhadap rasa urgensi yang membakar dadanya. ​"Bergeraklah, sialan!" gumam Alaric dengan suara bariton yang serak. ​Ia memukul setir saat melihat sebuah truk besar di depannya mogok, menutup seluruh akses jalan. Amarahnya meluap, bukan hanya karena kemacetan itu, tapi karena rasa tidak berdaya yang mulai merayapi hatinya. Alaric membenci ketidakberdayaan. Sepanjang hidupnya, ia membangun imperium Valerius Group agar ia tidak pernah harus bergantung pada belas kasihan orang lain atau keadaan. Namun malam ini, badai Jakarta mengingatkannya bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar angka-angka di bursa saham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN