Di bawah kungkungan langit Jakarta yang masih menderu oleh amarah badai yang seakan hendak memecahkan kaca-kaca gedung pencakar langit, Alaric Valerius berdiri di sebuah titik garis batas di mana tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu. Kamar utama unit 2205 itu kini bukan hanya sekadar ruang bagi penyatuan fisik yang darurat, melainkan sebuah altar pengorbanan yang sunyi di mana Alaric secara sadar telah meruntuhkan seluruh tatanan moral, integritas, dan martabat yang selama empat dekade ini ia bangun dengan tangan dinginnya. Penyatuan mereka kini telah mencapai fase yang jauh lebih dalam, lebih gelap, dan lebih purba daripada sekadar gesekan raga yang panas; ini adalah sebuah klaim absolut, sebuah penjajahan eksistensi yang tidak menyisakan ruang bagi kedaulatan individu. Alar

