(++) Ritme Badai.

1189 Kata

​Guntur meledak di langit Jakarta dengan resonansi yang begitu dahsyat, sanggup menggetarkan pilar-pilar beton gedung pencakar langit yang paling kokoh sekalipun. Namun, di dalam kesunyian yang riuh di kamar itu, dentuman dari alam itu seolah-olah hanya menjadi metronom bagi sebuah simfoni yang jauh lebih liar, lebih gelap, dan lebih primitif. Alaric Valerius kini telah sepenuhnya kehilangan kendali atas topeng peradaban yang selama ini ia kenakan dengan penuh keangkuhan. Pria yang biasanya bergerak dengan presisi algoritma dan ketenangan es itu kini didikte sepenuhnya oleh ritme badai yang menderu di luar jendela dan di dalam aliran darahnya sendiri. Penyatuan mereka telah melewati fase adaptasi yang menyakitkan; kini, raga Seraphina tidak lagi sekadar menerima invasi dengan pasrah, melai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN