Cahaya fajar yang sesungguhnya kini telah benar-benar menerobos masuk melalui celah-celah tirai sutra yang tersingkap di unit itu, menyiram ruangan mewah itu dengan warna emas pucat yang dingin dan jujur. Keheningan yang menyelimuti kamar utama ini terasa begitu berat, seolah-olah atmosfer di dalam ruangan itu sendiri sedang menanggung beban dosa yang luar biasa besar yang baru saja terjadi di atas ranjang raksasa di tengah ruangan. Alaric Valerius masih belum membiarkan satu inci pun jarak tercipta antara tubuhnya yang masif dan raga Seraphina Azkadina yang mungil. Di bawah selimut yang sudah kusut masai, basah oleh peluh, dan berantakan karena pergulatan gairah yang tak kenal ampun semalam suntuk, Alaric mendekap Sera dengan kekuatan yang seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan kembali

