Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca raksasa di unit 2205 tidak lagi terasa hangat, estetis, atau menenangkan sebagaimana biasanya bagi seorang pria sukses seperti Alaric Valerius. Pagi ini, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang sangat terang, menelanjangi setiap inci dosa, kebusukan moral, dan pengkhianatan yang ia lakukan di bawah perlindungan kegelapan malam yang menyesatkan. Alaric terbangun dengan sentakan halus di jantungnya, sebuah reaksi insting dari seorang pria yang selama puluhan tahun selalu berada dalam kondisi waspada tinggi. Namun, kewaspadaan kali ini bukan karena ancaman akuisisi bisnis yang agresif atau fluktuasi pasar saham, melainkan karena beban moral yang tiba-tiba menghantam dadanya seberat beton cor yang dingin. Ia

