Kemenangan Sang Bidadari

1327 Kata

​Keheningan yang mencekam dan sarat akan ketegangan di dalam kamar utama unit itu perlahan-lahan mulai terusik, bukan oleh suara bising dari luar gedung yang mulai sibuk dengan denyut nadi kota Jakarta, melainkan oleh pergerakan halus dan ritmis dari balik tumpukan selimut sutra yang berantakan. Seraphina Azkadina mulai menarik napas panjang, sebuah hirupan oksigen yang terasa jauh lebih ringan dan lega dibandingkan semalam, ketika paru-parunya seolah terhimpit oleh suhu tubuh yang membara akibat demam yang menyerang sistem pertahanannya. Perlahan, kelopak matanya yang lentik bergetar hebat, mencoba menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya matahari pagi yang kini sudah menyapu permukaan ranjang dengan warna emas pucat yang tajam dan jujur. ​Saat kesadarannya merangkak naik ke permukaan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN