Di luar sana, alam semesta seolah-olah sedang menunjukkan amarahnya yang paling primitif dan tidak terkendali. Langit Jakarta yang biasanya penuh dengan polusi cahaya dan deru mesin kota, kini telah berubah menjadi kanvas hitam pekat yang robek berkali-kali oleh kilatan petir yang membutakan mata. Guntur meledak dengan frekuensi yang mengerikan, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding kaca unit 2205 yang kedap suara, namun getarannya tetap mampu menembus struktur beton dan baja. Getaran frekuensi rendah itu merayap di sepanjang lantai marmer, menjalar ke kaki ranjang, hingga terasa sampai ke tulang belakang Alaric Valerius yang sedang tegang. Namun, guntur yang memekakkan telinga dan sanggup menggetarkan kaca jendela setinggi langit-langit itu hanyalah sekadar musik latar yang jau

