Titik Didih Sang Pelindung.

988 Kata

Alaric duduk kembali di kursi samping ranjang, menatap wajah Sera yang seolah-olah sedang memudar dalam tidurnya yang menyakitkan. Ia menyadari betapa sunyinya apartemen ini tanpa suara tawa atau celotehan manja Sera yang biasanya mengganggunya. Kesunyian ini terasa seperti beban fisik yang menekan dadanya. Ia merasa seolah-olah waktu telah berhenti berputar, meninggalkan mereka berdua terjebak dalam ruang antara hidup dan mati, di tengah badai yang tidak kunjung usai. ​Setiap menit yang berlalu terasa seperti satu jam bagi Alaric. Ia terus mengganti kompres, terus memantau suhu tubuh Sera dengan termometer setiap lima belas menit. Ia tidak peduli jika jas mahalnya kini tergeletak kotor di lantai, atau jika reputasinya sebagai CEO yang dingin kini hancur di depan mata seorang supir dan ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN