Fajar baru saja menyingsing di atas cakrawala Jakarta, menyemburkan warna jingga yang memar di antara gedung-gedung pencakar langit yang masih tertidur dalam kabut polusi. Di lantai lima puluh lima The Valerius Penthouse, Alaric Valerius sudah memulai ritual paginya dengan kedisiplinan seorang tentara. Ia berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah selatan, menggenggam sebuah cangkir porselen berisi kopi hitam tanpa gula yang uapnya masih menari-nari di udara. Tubuhnya sudah terbungkus rapi oleh celana kain hitam dan kemeja putih yang disetrika kaku, meski dasinya masih tersampir longgar di bahu. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah kemacetan yang mulai merayap di bawah sana, namun pikirannya masih tertinggal pada sisa-sisa aroma vanilla yang seolah menolak untuk per

