Cahaya matahari pagi yang pucat merayap perlahan menembus celah-celah tirai otomatis di penthouse lantai lima puluh lima, menciptakan garis-garis emas yang membelah keheningan kamar tidur utama. Di dalam ruangan yang masih menyisakan aroma vanilla yang pekat dan sisa-sisa gairah yang meledak semalam, Alaric Valerius masih terlelap dalam tidur yang jarang ia dapatkan—tidur yang berat namun penuh dengan ketegangan bawah sadar. Lengannya yang kekar melingkar posesif di pinggang Seraphina, seolah-olah bahkan dalam alam mimpi pun, ia tidak mengizinkan gadis itu melarikan diri dari jeratan dosanya. Dekapan itu begitu erat, sebuah manifestasi fisik dari obsesi yang kini telah mengakar sepenuhnya di dalam jiwa Alaric. Seraphina terbangun lebih dulu. Ia merasakan detak jantung Alaric yang stabil

