Malam Pengkhianatan.

936 Kata

Sera, yang mendengar sindiran itu, tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia justru mengangkat gelas sampanyenya ke arah Saskia, sebuah gestur toast yang tampak sopan namun dipenuhi dengan penghinaan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Saskia dengan tatapan yang seolah berkata bahwa Saskia hanyalah sebuah pajangan kuno yang tidak lagi memiliki tempat di sisi Alaric. Ketegangan di antara kedua meja itu begitu kental hingga para pelayan pun tampak ragu untuk mendekat. Alaric merasa seperti tawanan yang sedang menunggu hukuman mati, terjepit di antara dua wanita yang masing-masing mewakili sisi hidupnya yang berbeda: keteraturan yang membosankan dan kehancuran yang memabukkan. ​Tiba-tiba, Sera berdiri dari kursinya. Ia tidak berjalan menuju toilet atau keluar restoran. Ia berjalan per

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN