Asap cerutu yang pekat menari-nari di bawah temaram lampu meja kerja kayu jati yang antik, menciptakan atmosfer yang sarat akan maskulinitas dan rahasia yang terkubur dalam-dalam. Alaric menyandarkan punggungnya pada sofa kulit yang empuk, jemarinya yang kokoh masih melingkari gelas kristal berisi sisa wiski yang kini mulai menghangat. Di seberangnya, Bramantyo tampak sangat rileks, gurat-gurat kecemasan yang biasanya menghiasi dahinya seolah sirna tertiup oleh angin kepercayaan yang baru saja Alaric embuskan. Setiap kata yang keluar dari mulut Alaric malam ini adalah simfoni penyesatan yang disusun dengan sangat teliti, sebuah narasi yang menempatkan dirinya sebagai malaikat pelindung bagi Seraphina, sementara di balik bayang-bayang, ia adalah iblis yang sedang menjarah kesucian gadis it

