Cairan amber di dalam gelas kristal itu bergoyang pelan, memantulkan cahaya redup dari lampu meja kerja Bramantyo yang berlapis emas. Alaric menyesap wiskinya perlahan, membiarkan rasa panas alkohol membakar kerongkongannya, mencoba mengalihkan fokus dari gemuruh yang tak kunjung reda di dalam dadanya. Di hadapannya, Bramantyo duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggung ke kursi kulit eksekutifnya sembari mengembuskan asap cerutu yang tebal ke udara. Pria tua itu tampak sangat puas, seolah beban berat yang selama ini menghimpit bahunya baru saja diangkat oleh tangan-tangan gaib. Namun, bagi Alaric, setiap embusan asap dan setiap kata pujian yang keluar dari mulut sahabatnya itu terasa seperti sembilu yang menyayat nuraninya yang sudah mulai tumpul. Alaric menatap jemari tangannya

