Denting es batu yang beradu dengan gelas kristal terdengar seperti lonceng kematian di keheningan griya tawang Bianca malam itu. Cahaya dari layar tablet yang masih menyala di atas meja marmer memantulkan binar kegelapan di pupil matanya yang tajam. Bianca tidak lagi menangis; air matanya sudah mengering sejak ia menyadari bahwa permohonan dan ancaman emosional tidak akan pernah mempan pada pria sekeras Alaric Valerius. Alaric adalah seorang arsitek strategi, dan untuk meruntuhkan kekaisarannya, Bianca harus bertransformasi menjadi penghancur yang jauh lebih dingin dan kalkulatif. Di hadapannya kini terhampar bukti-bukti yang cukup untuk membakar hidup Alaric dan Seraphina hingga menjadi abu—mulai dari dokumen kepemilikan apartemen atas nama perusahaan cangkang Sera, hingga foto-foto mobi

