Malam itu, detak jam dinding di ruang kerja pribadi Bramantyo Dirgantara terdengar seperti dentuman palu yang menghantam paku ke peti mati kepercayaannya. Setelah pintu depan kediaman mewah itu tertutup dengan suara debuman halus yang menandai kepulangan Alaric Valerius, Bramantyo masih mematung di balik meja eksekutifnya. Ruangan itu masih menyisakan aroma cerutu Kuba dan wiski mahal—aroma yang selama ini ia asosiasikan dengan persahabatan, loyalitas, dan aliansi bisnis yang tak terpatahkan. Namun, kini aroma itu terasa mencekik, seolah-olah gas beracun baru saja dilepaskan di dalam ruangannya. Bramantyo duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh rak-rak buku jati yang menjulang, mencoba memproses rasa lega yang ia rasakan setelah pembicaraannya dengan Alaric. Baginya, Alaric a

