Ketegangan di dalam ruangan itu terasa begitu pekat, hampir menyerupai zat cair yang menyesakkan paru-paru. Alaric Valerius berdiri di belakang meja jati besarnya dengan punggung tegak, berusaha memanggil kembali sisa-sisa otoritas yang biasanya mampu membuat para menteri dan pengusaha kelas kakap bergidik hanya dengan satu tatapan. Namun, di hadapan Seraphina yang berdiri dengan balutan sutra minimalis, perisai harga dirinya terasa seperti kaca yang retak seribu. Alaric memaksakan matanya untuk tidak turun ke bawah leher Sera, tetap terpaku pada manik mata jernih gadis itu, meski bayangan raga yang hanya terbalut sehelai kain tipis itu terus menghantam kesadarannya seperti ombak besar yang menghancurkan dermaga. "Sera, kamu sudah bertindak terlalu jauh," suara Alaric keluar dengan nada

