Kegelapan di dalam griya tawang Alaric Valerius terasa begitu menyesakkan, seolah-olah dinding-dinding kaca yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta itu perlahan-lahan merapat untuk menghimpitnya. Alaric berdiri mematung di tengah ruangan, membiarkan gelas wiskinya yang kedua malam itu mengembun di genggamannya. Pikirannya adalah sebuah labirin yang kacau, di mana setiap jalan keluar yang ia coba temukan selalu berujung pada wajah Bramantyo Dirgantara yang menatapnya dengan kekecewaan yang mematikan. Bayangan tentang kancing emas berinisial AV yang ditemukan sahabatnya itu terus berputar-putar, seperti rekaman rusak yang menghantui kewarasannya. Alaric memejamkan mata, dan seketika itu juga, ia bisa membayangkan ekspresi Bramantyo jika pria itu benar-benar melihat rekaman CCTV rahasia ya

