Hawa dingin AC di dalam mobil mewah Alaric tidak mampu memadamkan api kecemasan yang membakar dadanya saat ia berkendara meninggalkan gerbang besi kediaman Dirgantara. Di spion tengah, ia melihat siluet rumah megah itu perlahan menghilang ditelan kegelapan malam, namun perasaan diawasi tidak ikut memudar. Sebaliknya, perasaan itu justru semakin menebal, seolah-olah ada ribuan mata tak kasat mata yang kini menempel di kulitnya, merayap masuk ke bawah kemeja mahalnya, dan mencatat setiap tetap keringat dingin yang mengucur di pelipisnya. Kalimat Bramantyo tadi bukan sekadar gertakan; itu adalah proklamasi perang yang sangat tenang, sebuah deklarasi bahwa wilayah kedaulatan Alaric atas Seraphina telah dianeksasi oleh sang pemilik sah. Alaric mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih,

