Raungan mesin Porsche merah milik Kaivan Mahendra membelah kesunyian kawasan SCBD yang masih menyisakan genangan air hujan di aspalnya yang hitam. Di dalam kabin mobil yang sempit dan beraroma kulit mewah bercampur parfum maskulin yang tajam, Seraphina Azkadina menyandarkan kepalanya pada jok kursi penumpang. Ia memejamkan mata, membiarkan kecepatan gila yang dipacu Kaivan seolah menghanyutkan sisa-sisa kewarasannya ke dalam pusaran angin malam. Ia tahu, di belakang sana, di balik pilar-pilar beton gedung pencakar langit, mata-mata Alaric Valerius pasti sedang kalang kabut melaporkan pemandangan ini. Dan pemikiran itu, ironisnya, memberikan sedikit rasa hangat di hatinya yang telah membeku menjadi es. Kaivan melirik Sera dari balik kemudi. Seringai di wajahnya tidak pernah luntur sejak

