Kilat Amarah Sang Titan.

1268 Kata

​Pagi itu, Jakarta terbangun dalam selimut kabut tipis yang menyisakan kelembapan sisa badai semalam, namun di dalam gedung pencakar langit Menara Valerius, atmosfer terasa jauh lebih mencekam daripada cuaca di luar. Alaric Valerius berdiri di depan cermin besar di ruang istirahat pribadinya, merapikan simpul dasi sutra berwarna biru dongker yang melingkar di lehernya dengan gerakan yang kaku dan mekanis. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini tampak merah karena kurang tidur. Bayangan Seraphina Azkadina yang berjalan gontai di bawah hujan setelah ia usir dengan kejam kemarin siang terus menghantui setiap detik kesunyian yang ia miliki. Ia telah melakukan apa yang harus ia lakukan demi melindungi gadis itu dari ancaman Bianca, namun rasa sakit yang ia ciptakan sendiri di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN