Raungan mesin Lamborghini hitam milik Alaric Valerius perlahan mereda saat mobil itu terhenti di area parkir bawah tanah yang privat, jauh dari jangkauan kamera pengawas publik atau mata-mata media yang haus skandal. Namun, ketenangan mesin itu tidak berbanding lurus dengan gemuruh di dalam d**a sang Titan. Alaric masih mencengkeram kemudi dengan kekuatan yang sanggup meremukkan serat karbonnya. Napasnya memburu, berat dan panas, memburamkan kaca depan mobil yang mahal itu. Di kursi penumpang, ponselnya yang layarnya telah retak parah akibat cengkeraman amarahnya tadi masih menampilkan sisa-sisa foto Seraphina yang sedang tertawa di pelukan Kaivan Mahendra. Foto itu seolah-olah menjadi duri yang menancap tepat di saraf pusatnya, mengirimkan sinyal rasa sakit dan penghinaan yang terus-mene

