Sinar matahari pagi yang memantul pada dinding kaca gedung fakultas ekonomi dan bisnis itu tidak mampu menghalau hawa dingin yang merayap di sepanjang tulang belakang Seraphina. Ia melangkah menyusuri koridor dengan gerakan yang kaku, hampir robotik. Gaun turtleneck rajut berwarna krem yang dipilihkan Alaric terasa seperti kulit kedua yang mencekik. Setiap kali ia berpapasan dengan rekan mahasiswa, ia merasa seolah-olah mereka bisa melihat menembus kain mahal itu—melihat jejak-jejak ungu kehitaman yang ditinggalkan Alaric semalam, melihat tanda kepemilikan yang masih berdenyut perih di leher dan paha dalamnya. Sera merasa seperti sebuah penipuan berjalan; ia tampak anggun dan terhormat di luar, namun di dalam, ia merasa hancur, ternoda, dan sepenuhnya diperbudak oleh obsesi seorang pria y

