Kegelapan di dalam kamar utama apartemen Seraphina kini bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh gravitasi dosa yang sangat berat. Alaric merasa seolah-olah seluruh oksigen di bawah selimut itu telah berubah menjadi api yang membakar paru-parunya. Di lehernya, ia masih bisa merasakan sisa kehangatan bibir Sera yang baru saja mendaratkan ciuman-ciuman provokatif, sebuah jejak yang terasa lebih panas daripada demam yang sedang mereka lawan. Jantung Alaric berdentum dengan ritme yang tidak lagi sinkron dengan logika; detaknya liar, menuntut, dan penuh dengan dorongan primitif yang selama empat puluh tahun hidupnya berhasil ia jinakkan dengan sempurna di bawah setelan jas mewahnya. Namun sekarang, tanpa sehelai benang pun yang menghalangi kulit me

