Puncak Ambang Dosa.

979 Kata

​Keheningan di dalam unit apartemen mewah itu kini terasa mencekam, seolah-olah seluruh semesta telah menahan napasnya untuk menyaksikan runtuhnya sebuah benteng moralitas yang telah dibangun selama puluhan tahun. Di bawah selimut tebal yang mengurung mereka, panas yang dihasilkan bukan lagi sekadar sisa-sisa demam biologis, melainkan sebuah energi kinetik dari dua raga yang menyatu tanpa pembatas. Alaric Valerius merasa dirinya berada di titik nadir kewarasan. Rapalan nama Bramantyo yang tadi ia jadikan perisai kini terdengar seperti gema kosong di kejauhan, kalah telak oleh suara napas Seraphina yang memburu di depan wajahnya. Suara hujan yang menghantam jendela kaca setinggi langit-langit apartemen itu seakan menjadi musik latar bagi tragedi moral yang sedang berlangsung di atas ranjang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN