Panggilan Sayang "Ken"

1370 Kata

Cahaya fajar London yang pucat perlahan merayap masuk melalui celah gorden ruang perawatan, menyentuh lantai linoleum yang steril dan memberikan rona kebiruan pada wajah Seraphina Dirgantara yang masih tampak sangat lelah. Di dalam dekapan lengannya yang masih gemetar, seonggok nyawa kecil yang baru saja menghirup udara dunia beberapa jam yang lalu mulai tertidur pulas. Keheningan di ruangan itu terasa begitu khidmat, hanya dipecah oleh bunyi ritmis dari monitor detak jantung dan deru halus mesin pemanas ruangan. Sera menatap bayi laki-laki itu tanpa kedip, seolah-olah jika ia memalingkan wajah sedetik saja, keajaiban di pelukannya ini akan menguap tertiup angin London yang dingin. Ia menelusuri setiap inci fitur wajah bayinya—garis rahang yang sudah tampak tegas, hidung yang mancung sempu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN