London pada pukul tiga pagi adalah sebuah kesunyian yang mencekam, di mana kabut tebal merayap di sepanjang jalanan pusat kota seolah ingin menelan setiap cahaya lampu jalanan yang masih tersisa. Di dalam ruang persalinan rumah sakit swasta yang steril dan dingin, waktu seolah-olah berhenti berputar tepat ketika sebuah tangisan pecah, membelah keheningan malam dengan kekuatan yang tidak terduga. Suara itu bukan sekadar rengekan bayi yang baru lahir; itu adalah pekikan yang lantang, tajam, dan penuh otoritas, sebuah proklamasi keberadaan yang seolah menuntut pengakuan dari seluruh penjuru ruangan. Perawat senior yang membantu persalinan tertegun sejenak, menatap bayi laki-laki yang masih bersimbah darah dan cairan ketuban namun sudah menunjukkan tanda-tanda vitalitas yang luar biasa. Paru-p

