Restoran fine dining yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD itu memancarkan aura kemewahan yang tenang dan terkendali. Cahaya lampu gantung kristal yang temaram memantul di atas peralatan makan perak dan gelas-gelas kristal yang tersusun sangat presisi. Di balik dinding kaca raksasa, kerlip lampu Jakarta tampak seperti hamparan permata yang diserakkan di atas beludru hitam, namun bagi Alaric Valerius, semua keindahan itu terasa hambar dan artifisial. Ia duduk di kepala meja, mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu arang yang dijahit dengan ketelitian mikroskopis, wajahnya merupakan benteng emosi yang tak tertembus. Malam itu adalah malam yang krusial. Alaric sedang menjamu dua kolega bisnis dari konglomerat minyak asal Timur Tengah d

