Hawa dingin dari pendingin ruangan di lorong belakang aula besar itu tidak mampu meredam gejolak panas yang mendidih di dalam d**a Alaric Valerius. Langkah kakinya yang berat dan terburu-buru bergema di atas lantai porselen, menciptakan irama yang sejalan dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia baru saja mencoba melarikan diri dari lantai dansa, dari aroma vanilla yang menjerat, dan dari bisikan-bisikan Sera yang telah menguliti kewarasannya hingga ke saraf terdalam. Namun, pelarian itu terhenti ketika sebuah tangan kecil yang lembut namun memiliki cengkeraman yang sangat kuat menarik lengan jasnya tepat di depan deretan pintu ruang privat yang digunakan oleh para tamu VIP untuk berganti pakaian atau sekadar membenahi penampilan. "Om Alaric, tunggu!" Suara Sera terdengar sedikit m

