Alaric mencoba mengatupkan rahangnya kuat-kuat, berusaha menjaga ekspresinya tetap datar dan membatu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia bisa melihat Bramantyo di pinggir lantai dansa sedang berbicara sambil tertawa dengan rekan bisnis lainnya, sesekali melirik ke arah mereka dengan senyum puas, seolah-olah dunia ini berada dalam harmoni yang sempurna. Pemandangan itu adalah siksaan psikologis yang paling kejam bagi Alaric. Bagaimana mungkin seorang pria bisa berdansa begitu intim dengan putri sahabatnya sendiri, merasakan setiap lekuk tubuh gadis itu, sementara sang ayah melihatnya dengan penuh kepercayaan? Simfoni itu terus berlanjut, semakin cepat dan menuntut. Setiap kali mereka berputar, paha Sera yang tertutup kain sutra licin bergesekan dengan paha Alaric, menciptakan

