Sisa-sisa badai gairah yang baru saja menghancurkan kewarasan di depan cermin rias masih menyisakan hawa panas yang menyesakkan di udara, namun bagi Seraphina, atmosfer di dalam ruangan itu kini berubah menjadi sesuatu yang lebih intim sekaligus mengintimidasi. Ia masih bersandar pada permukaan cermin yang dingin dengan wajah yang memerah, sementara Alaric tetap menghimpitnya dari belakang, membiarkan beban tubuhnya yang masif menjadi pengingat permanen akan kekalahannya. Cairan bening yang melimpah akibat klimaks yang mengguncang tadi masih terasa mengalir perlahan di antara paha dalam Sera, menciptakan sensasi lembap yang membuatnya merasa sangat terekspos dan tak berdaya. Alaric menarik diri perlahan, namun tidak untuk melepaskan; ia memutar tubuh Sera yang sudah selemas kain sutra, me

