Setelah pintu Rolls-Royce itu tertutup dengan debuman halus yang kedap, meninggalkan Seraphina yang melangkah pergi menuju lobi apartemennya, suasana di dalam kabin belakang mendadak berubah menjadi makam bagi nurani Alaric Valerius. Alaric duduk mematung, punggungnya tidak lagi bersandar pada jok kulit yang baru saja menjadi saksi bisu penyatuan kasarnya. Ia menatap kosong ke arah lobi yang semakin menjauh saat mobil mulai bergerak meninggalkan kawasan residensial tersebut. Di depannya, kaca pembatas masih tertutup rapat, namun Alaric merasa seolah-olah mata Mulyono yang menatap melalui spion tengah sedang menghakimi setiap inci dari dosa-dosanya. Perjalanan pulang menuju kediaman pribadinya malam itu terasa jauh lebih lama dari biasanya. Setiap lampu jalanan yang menyinari kabin seolah-

