Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan kebisingan yang teratur, namun di dalam unit apartemen mewah milik Seraphina, keheningan sengaja diciptakan untuk menjadi senjata. Sera duduk di tepi tempat tidurnya, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang menghadap ke ranjang. Matanya masih menyimpan sisa-sisa amarah dari perdebatan semalam tentang Bianca. Ia merasa bahwa ciuman dan penyatuan fisik sehebat apa pun tidak akan pernah cukup jika pikiran Alaric masih terbagi dengan bayang-bayang masa lalunya. Ia membutuhkan bukti kekuasaan yang lebih nyata, sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ia adalah prioritas utama, melampaui Valerius Group, melampaui citra publik, dan melampaui kenangan wanita mana pun. Sera melirik jam di dinding. Ia tahu persis jadwal Alaric pagi ini. Pria itu seharusnya

