Lobi lantai eksekutif Valerius Group pagi itu terasa seperti medan perang yang dibungkus dalam kemewahan minimalis. Aroma kopi arabika mahal dan wangi pembersih lantai yang steril tidak mampu menutupi ketegangan yang merayap di udara. Amara, dengan sanggul rambutnya yang selalu rapi dan setelan kerja yang kaku, duduk di balik meja marmernya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya tertuju pada layar monitor, namun pikirannya masih tertinggal pada kejadian kemarin—saat Alaric, sang CEO yang biasanya tak tergoyahkan, meninggalkan rapat direksi paling krusial dalam tahun ini hanya karena satu pesan suara. Amara sudah cukup lama mendampingi Alaric untuk mengetahui bahwa perubahan ini tidak normal. Ini bukan sekadar skandal; ini adalah sabotase terhadap martabat pria yang ia kagumi. Tiba-t

