Hening yang menyergap kamar utama apartemen rahasia itu terasa begitu padat, seolah-olah udara telah membeku menjadi kristal-kristal kegelapan yang menghimpit paru-paru hingga setiap tarikan napas terasa berat dan menyiksa. Detik jam di dinding yang berlapis beludru hitam terdengar seperti dentuman lonceng kematian bagi sisa-sisa kebebasan Seraphina. Setelah badai gairah yang brutal, liar, dan penuh penghancuran itu mereda, dunia di luar sana seakan berhenti berputar, menyisakan ruang hampa yang hanya diisi oleh aroma keringat, gairah yang menguap, dan sisa kemarahan yang masih menggantung di udara. Namun, bagi Sera, penderitaan ini belum benar-benar berakhir; fase penyerahan ini justru baru memasuki tahap yang paling menyesakkan. Alaric, sang Titan yang baru saja melumat seluruh harga

