Cahaya matahari yang menyeruak masuk melalui celah gorden tipis dan berdebu di kamar motel murah itu terasa seperti sembilu yang menyayat kelopak mata Seraphina. Ia mengerang pelan, mencoba memblokir serangan cahaya itu dengan lengannya yang terasa lemas. Setiap inci tubuhnya terasa kaku, seolah ia baru saja dijatuhkan dari ketinggian yang luar biasa. Namun, rasa sakit di sekujur ototnya tidak sebanding dengan kepalanya yang kini berdenyut hebat, seolah-olah ada palu godam yang menghantam saraf-sarafnya tanpa henti. Denyutan itu berirama dengan detak jantungnya yang lemah, menciptakan simfoni penderitaan yang membuatnya ingin kembali tenggelam dalam ketidaksadaran. Pening yang ia rasakan bukan sekadar sisa-sisa tangisan histeris yang ia tumpahkan semalam hingga ia jatuh tertidur karena

