Lantai apartemen itu kini menyerupai medan perang yang bersimbah puing-puing kenangan. Serpihan kristal dari vas bunga yang pecah, sobekan kain sutra dari gaun-gaun mahal yang pernah dipuji Alaric, hingga mutiara-mutiara yang tercerai-berai dari kalung yang ditarik paksa, semuanya berserakan seperti bangkai cinta yang membusuk. Seraphina Dirgantara berdiri di tengah reruntuhan itu dengan napas yang tersengal, dadanya naik-turun dalam ritme yang menyakitkan. Tangannya yang memegang sisa sobekan kain gemetar hebat, bukan lagi karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena sebuah kekosongan yang tiba-tiba menghantamnya dengan kekuatan jutaan ton. Amarahnya baru saja mencapai titik jenuh, dan di balik puncak emosi itu, ternyata hanya ada jurang hampa yang gelap. Ia menatap tangannya yang s

