Layar ponsel yang terang benderang itu terasa menyilaukan mata Seraphina yang sudah sembab dan perih. Di dalam temaram kamar motel yang menyesakkan, cahaya biru dari perangkat digital itu seolah-olah berubah menjadi pedang tajam yang menghujam langsung ke pusat saraf penglihatannya. Ia duduk meringkuk di pojok tempat tidur yang berderit, menempelkan punggungnya pada dinding semen yang lembap dan dingin. Kedua lututnya ditekuk erat ke arah d**a, menciptakan sebuah benteng kecil yang rapuh bagi dirinya sendiri di tengah lautan keputusasaan yang siap menenggelamkannya kapan saja. Jemarinya yang gemetar hebat, yang kini tampak begitu pucat dan kurus, bergerak dengan ragu-ragu menyentuh ikon aplikasi kalender. Itu adalah aplikasi yang biasanya ia kelola dengan tingkat ketelitian yang hampir

