Udara di dalam ruang kerja Alaric yang luas kini terasa sangat pengap, seolah-olah seluruh oksigen telah dihisap keluar oleh ketegangan yang menyesakkan antara dua jiwa yang sedang bertikai dalam cinta yang menyimpang. Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat—pintu yang beberapa saat lalu menjadi saksi bisu penghinaan Sera terhadap Amara—Alaric Valerius merasa dunianya sedang runtuh dan dibangun kembali dalam bentuk yang mengerikan. Ia berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan panorama kemacetan Jakarta, namun matanya tidak melihat gedung-gedung pencakar langit. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di kaca: seorang pria berusia empat puluh tahun, seorang pemimpin industri yang disegani, yang kini sedang gemetar hanya karena tatapan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang d

