Langkah kaki Amara terasa berat, seolah karpet beludru mahal di lantai eksekutif itu berubah menjadi lumpur yang menghisap tenaganya. Nampan perak di tangannya sudah kosong, namun bebannya terasa lebih berat daripada saat ia membawa cangkir kopi pahit untuk Seraphina tadi. Di dalam benaknya, gambaran Sera yang melingkarkan lengan di leher Alaric terus berputar seperti film rusak yang menyakitkan. Ia duduk di balik meja marmernya, mencoba memfokuskan mata pada layar monitor, namun jemarinya gemetar saat menyentuh keyboard. "Amara?" Suara bariton yang tenang namun tajam itu mengejutkannya. Amara mendongak dan mendapati Marco berdiri di depannya. Seperti biasa, Marco tampak sempurna dalam setelan jas hitam tanpa cela, wajahnya datar tanpa emosi, dan matanya selalu memindai sekitar dengan

