Sera membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin yang mengucur dari keran wastafel yang berkarat. Sensasi dingin yang menusuk kulitnya terasa seperti ribuan jarum kecil, namun ia membutuhkannya untuk mematikan rasa kebas di jiwanya. Ia membiarkan air itu membasahi leher dan sebagian bajunya, mencoba menghanyutkan residu keputusasaan yang baru saja meledak di lantai kamar mandi tadi. Setiap usapan air adalah upaya untuk menghapus jejak tangisan yang membekas di matanya yang kini memerah dan sembab. Ia menegakkan punggung, menatap pantulan dirinya di cermin retak itu sekali lagi. Kali ini, tatapannya bukan lagi tentang kerapuhan seorang wanita yang baru saja dicampakkan. Kesedihan yang beberapa menit lalu meluap-luap kini telah mendingin, membeku menjadi sebuah tekad yang keras sepert

