Langkah kaki Seraphina yang beralaskan sepatu kets kusam tidak lagi bersuara di atas lantai marmer lobi kediaman Dirgantara yang dingin. Ia berjalan melewati deretan pot porselen dinasti Ming dan lukisan-lukisan maestro dunia yang menghiasi dinding rumahnya dengan tatapan kosong. Atmosfer rumah ini masih sama; angkuh, kaku, dan penuh dengan aroma kekuasaan yang dulu selalu membuatnya ingin melarikan diri. Namun hari ini, ia kembali bukan sebagai tawanan yang menyerah, melainkan sebagai pemain catur yang siap menumbangkan raja. Di depan pintu ruang kerja jati yang menjulang tinggi, Sera berhenti sejenak. Ia merapikan tudung hoodie hitamnya, memastikan potongan rambut pendeknya yang kasar tidak terlalu mencolok, meski ia tahu ayahnya akan segera menyadarinya. Tanpa mengetuk, ia mendorong pi

