Ketukan ritmis dari jarum jam di dinding kantor Alaric Valerius seolah menjelma menjadi suara palu hakim yang menghantam meja hijau, menjatuhkan vonis bersalah yang tak henti-hentinya bergaung di dalam tempurung kepalanya. Setelah panggilan telepon dari Bramantyo berakhir, ruangan itu tidak lagi terasa seperti singgasana kekuasaan, melainkan seperti peti mati yang terbuat dari kaca dan beton. Alaric merasa sesak. Setiap kali ia mencoba menarik napas, ia merasa oksigen di sekitarnya telah terkontaminasi oleh kebohongannya sendiri. Bayangan Seraphina—kulitnya yang seputih s**u, rintihannya yang membelah malam, dan tatapan kemenangannya saat fajar menyingsing—terus menari-nari di depan matanya, merusak setiap logika bisnis yang ia coba susun. Ia harus menghentikan ini. Ia harus menemukan c

