Keheningan di dalam ruang kantor Alaric Valerius yang luas dan dingin itu mendadak pecah oleh suara getaran ponsel yang berada di atas meja mahoni yang keras. Bagi Alaric, suara itu bukan sekadar dering telepon biasa; itu terdengar seperti alarm peringatan akan datangnya bencana besar yang sudah ia perkirakan namun tetap tidak siap ia hadapi. Dengan tangan yang masih terasa kaku dan dingin, Alaric melirik layar perangkat canggih itu. Nama yang muncul di sana seolah menjadi hulu ledak yang siap menghancurkan sisa-sisa kewarasannya yang sudah sangat rapuh pagi ini. Bramantyo Dirgantara. Jantung Alaric berdegup sangat kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang menyakitkan, seolah-olah organ itu ingin melompat keluar untuk melarikan diri dari tubuh sang pengkhianat. Alaric menata

