Keheningan yang menyelimuti ruang kerja Alaric Valerius setelah kegagalannya yang memalukan bersama Saskia terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Ia duduk di balik meja mahoninya, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kursi kulit yang mahal, namun ia tidak menemukan kenyamanan sedikit pun. Lampu kantor yang mulai meredup seiring dengan senja yang jatuh di cakrawala Jakarta menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah-olah merangkak di dinding, mengepungnya dalam kesendirian yang menyesakkan. Alaric menatap tangannya yang masih bergetar halus—sebuah pengingat fisik akan rasa jijik yang ia rasakan saat kulit Saskia menyentuhnya. Ia merasa seperti seorang pria yang telah dikutuk, seseorang yang telah kehilangan kemampuan untuk mengecap manisnya dunia karena lidahnya sudah terbiasa d

