Keheningan di dalam unit griya tawang itu terasa begitu mewah, namun di saat yang sama, ia menyimpan aura yang sangat mencekam. Cahaya lampu kota Jakarta dari balik jendela besar setinggi langit-langit memantul pada permukaan botol wiski kristal yang tinggal setengah di atas meja marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Alaric Valerius sedang duduk di sofa kulit premium, membiarkan Seraphina menyandarkan kepalanya di pangkuannya. Jemari Alaric merambat pelan, membelai rambut pirang Sera dengan gerakan mekanis yang kaku, seolah ia sedang mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya sendiri melalui sentuhan fisik yang akrab. Di ruangan ini, ia merasa seperti penguasa sebuah kerajaan kecil yang tersembunyi, sebuah dunia yang hanya berisi dirinya, Sera, dan dosa-d

